
I’dad: Dr. KH. Ismail SM, Sekretaris Umum MUI Kota Semarang
Mukadimah
Alhamdulillah was-syukru lillah. Allahumma shalli ‘ala Sayyidina Muhammad wa ‘ala alihi wa shahbihi wa man tabi’ahum bi ihsanin ila yaumid-din. Allahumma a’inna ala dzikrika wa syukrika wa husni ‘ibadatika.
Saya mengajak diri sendiri dan saudaraku mukminin-mukminat untuk senantiasa bersyukur kepada Allah SWT dalam semua keadaan. Pada kesempatan emas di Bulan Ramadhan yang penuh kemuliaan ini, mari kita thalabul ilmi dengan mengaji hal ihwal syukur. Kajian ini meliputi: pengertian syukur, syukur dalam Al-Quran dan Hadis, hikmah dan kalam akhir.
Pengertian Syukur
Kata "syukur" dalam bahasa Arab berasal dari akar kata شَكَرَ يَشْكُرُ شُكْرًا. yang berarti berterima kasih atau mengakui nikmat. Dalam kamus Al-Mu’jam Al-Wasith, kata "شكر" berarti mengakui nikmat atau kebaikan yang diterima dari orang lain atau dari Allah SWT. Kata ini juga berarti menghargai dan membalas nikmat tersebut dengan ucapan atau tindakan. Dalam istilah Islam, "syukur" adalah mengakui dan menghargai nikmat yang diberikan oleh Allah SWT dengan cara melakukan ketaatan kepada-Nya.
Syaikh Abul Qasim Abdul Karim Hawazin Al-Qusyairi (w. 1074 M), dalam kitabnya "al-Risalah al-Qusyairiyyah", menyatakan Syukur adalah salah satu tanda dari keimanan seseorang. Orang yang beriman akan selalu bersyukur atas segala nikmat yang diberikan. Syukur dapat meningkatkan spiritualitas seseorang, membuatnya lebih dekat kepada Allah dan lebih peka terhadap nikmat-Nya.
Hujjatul Islam Imam Al-Ghazali (w. 505 H/ 1111 M), seorang ulama besar ahli tasawuf, fiqh dan falsafah Islam dalam kitabnya Ihya Ulum ad-Din dan Kitab Mukasyafatul Qulub, menguraikan bahwa syukur adalah pintu menuju kesadaran spiritual yang lebih dalam. Beliau menjelaskan bahwa syukur adalah pengakuan akan kebaikan Allah SWT dan harus diwujudkan dalam tindakan nyata. Syukur terletak di lisan, hati dan anggota badan yang harus tampak dalam perbuatan kita sehari-hari. Tindakan syukur adalah bagian dari spiritualitas yang tinggi, dengan mengutip penegasan Sahabat Ibnu Mas’ud, bahwa Syukur itu separuh Iman.
Syeikh Ibnu ‘Atha’illah as-Sakandari (w. 1309 M), seorang Ulama Tasawuf, penulis Kitab Al-Hikam, menyatakan bahwa syukur membantu menyucikan jiwa dan membawa seorang hamba lebih dekat kepada Allah. Dengan bersyukur, hati seseorang akan dipenuhi cahaya iman, yang membuatnya mampu melihat nikmat dan karunia dalam setiap keadaan. Beliau juga menyatakan bahwa syukur sebagai bentuk penghambaan sejati, yaitu pengakuan bahwa segala sesuatu yang dimiliki adalah dari Allah SWT.
Dr. Aidh al-Qarni, seorang penulis dan motivator Islam, dalam bukunya "La Tahzan" menjelaskan bahwa sikap bersyukur dapat membantu menyembuhkan jiwa. Dia menyampaikan nasihat untuk menjadikan syukur sebagai kebiasaan dan menjadikannya bagian dari rutinitas harian, baik melalui do’a dan munajat kepada Allah SWT atau dengan mengingat segala nikmat yang telah diberikan oleh Allah SWT.
Prof. Dr. Amin Syukur, Guru Besar Ilmu Tasawuf UIN Walisongo (w. 2021 M) menjelaskan pengertian syukur adalah bentuk pengakuan atas nikmat yang diberikan oleh Allah SWT yang diucapkan secara lisan, dihayati dalam hati dan diwujudkan dalam tindakan. Dalam pandangannya, dengan bersyukur, seseorang akan lebih menghargai apa yang dimiliki dan menghindari sikap iri terhadap orang lain, sehingga syukur dapat mendatangkan kebahagiaan dan ketenangan jiwa.
Prof. Quraish Shihab, dalam Tafsir Al-Misbah, menjelaskan bahwa bersyukur kepada Allah merupakan perintah yang sangat ditekankan dalam Al-Qur'an. Ia menegaskan bahwa syukur adalah pengakuan hamba terhadap segala nikmat yang dianugerahkan oleh Allah. Prof. Quraish Shihab memaparkan beberapa poin penting mengenai syukur. Pertama, Definisi Syukur: Syukur bukan hanya diucapkan dengan lisan tetapi harus diaktualisasikan dengan hati dan tindakan. Ini mencakup menyadari nikmat-Nya dan menggunakannya sesuai dengan tuntutan syara’. Kedua, Manfaat Syukur: Dengan bersyukur, seseorang tidak hanya mendapatkan tambahan nikmat, tetapi juga akan merasakan ketenangan jiwa. Syukur akan membawa seseorang untuk menghargai apa yang dimilikinya dan menjauhkan perasaan iri terhadap orang lain. Ketiga, Hubungan antara Syukur dan Taqwa: bahwa syukur adalah manifestasi dari taqwa. Seseorang yang bertaqwa akan selalu berusaha untuk bersyukur, dan sebaliknya, syukur akan mendorong seseorang untuk lebih bertaqwa kepada Allah SWT. Keempat, Syukur dalam Konteks Sosial: Bersyukur juga diungkapkan melalui tindakan berbagi nikmat kepada sesama, khususnya kepada mereka yang kurang beruntung.
Hidayah Al-Qur’an tentang Syukur
Berikut adalah hidayah beberapa ayat Al-Qur'an yang berkaitan dengan perintah bersyukur, janji dan balasan bagi orang yang bersyukur serta peringatan bagi orang yang tidak bersyukur.
1. Surah Al-Baqarah (2:152)
فَاذْكُرُوْنِيْٓ اَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْا لِيْ وَلَا تَكۡفُرُوۡنِ
2. Surah Ibrahim (14:7)
وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَىِٕنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ
3. Surah An-Nahl (16:18)
وَاِنْ تَعُدُّوْا نِعْمَةَ اللّٰهِ لَا تُحْصُوْهَاۗ اِنَّ اللّٰهَ لَغَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ
4. Surah Al-Imran (3:145)
وَمَا كَانَ لِنَفْسٍ اَنْ تَمُوْتَ اِلَّا بِاِذْنِ اللّٰهِ كِتٰبًا مُّؤَجَّلًاۗ وَمَنْ يُّرِدْ ثَوَابَ الدُّنْيَا نُؤْتِهٖ مِنْهَاۚ وَمَنْ يُّرِدْ ثَوَابَ الْاٰخِرَةِ نُؤْتِهٖ مِنْهَاۗ وَسَنَجْزِى الشّٰكِرِيْنَ
5. Surah Luqman (31:12)
وَلَقَدْ اٰتَيْنَا لُقْمٰنَ الْحِكْمَةَ اَنِ اشْكُرْ لِلّٰهِۗ وَمَنْ يَّشْكُرْ فَاِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهٖۚ وَمَنْ كَفَرَ فَاِنَّ اللّٰهَ غَنِيٌّ حَمِيْدٌ
6. Surah Al-A'raf (7:10)
وَلَقَدْ مَكَّنَّٰكُمْ فِى ٱلْأَرْضِ وَجَعَلْنَا لَكُمْ فِيهَا مَعَٰيِشَ ۗ قَلِيلًا مَّا تَشْكُرُونَ
Dari beberapa ayat tersebut kita memperoleh penyadaran bahwa bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala adalah suatu kewajiban dan menjadi sumber kebahagiaan lahir batin serta ketenangan bagi seorang mukmin. Dengan terus ikhtiar mengamalkan sikap bersyukur, kita dapat merasakan berbagai kebaikan dalam hidup dan semakin mendekatkan diri kepada Rabb Yang Maha Memberi nikmat.
Hadis Nabi Saw Tentang Syukur
قَا اللهُ تَعَالىَ : يَاابْنَ اَدَمَ, اِنَّكَ مَاذَكَرْتَنِى شَكَرْتَنِى, وَاِذَامَانَسِيْتَنِى كَفَرْتَنِى (رواه الطبرانى عن ابى هريرة)
Dalam riwayat Aisyah RA, dikatakan sebagaimana berikut ini:
كان رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ ، إذا صلَّى ، قام حتى تفطَّر رجلاه . قالت عائشةُ : يا رسولَ اللهِ ! أتصنعُ هذا ، وقد غُفِر لك ما تقدَّم من ذنبك وما تأخَّرَ ؟ فقال ” يا عائشةُ ! أفلا أكونُ عبدًا شكورًا
وَمَنْ لاَيَشْكُرِ النَّاسَ لاَيَشْكُرِ اللهَ
عن ابى عبد الله عليه السلام قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : الطاعم الشكر له من الأجر كأجر الصائم المحتسب. والمعافى الشكر له من الأجر كأجر المبتلى الصبر. والمعطى الشّكر له من الأجر كأجر المحروم القانعز
Dari Abu Hurairah ra., Nabi Muhammad Saw bersabda,
انْظُرُوا إِلَى مَنْ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لَا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ
الطَّاعِمُ الشَّاكِرُ بِمَنْزِلَةِ الصَّائِمُ الصَّابِرِ
(HR. Bukhari, Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ibnu Hibban)
وروى التر مذى و قا ل حسن غريب : من اعطى عطا ء فوجد فليجز به فان لم يجد فليثن فان من اثنى فقد شكر ومن كتم فقد كفر.
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ الَّلهُ عَنْهُمَا قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى الَّلهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: نِعْمَتَانِ مَغْبُوْنٌ فِيْهِمَا كَشِيْرٌ مِنْ النَّاَسِ الصِّحَّةُ وَاْلفَرَاغُ
Diriwayatkan dari Shuhaib, dia berkata bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda:
عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ
كن وَرِعًا تكن أعبدَ الناسِ ، و كن قنِعًا تكن أشْكَرَ الناسِ
Dari beberapa Sabda Rasulullah Saw tersebut menjadi panduan bagi setiap mukmin tentang pentingnya pengamalan sikap dan perilaku syukur dalam kehidupan sehari-hari, sehingga meraih ketenangan dan kebahagiaan hidup.
Hikmah Sikap dan Perilaku syukur
Dalam Al-Qur'an dan Hadis Nabi Saw, banyak pesan penting kepada manusia beriman untuk selalu bersyukur atas nikmat yang diberikan, baik yang besar maupun yang kecil. Hikmah dan keutamaan sikap dan perilaku syukur dapat diringkas sebagai berikut.
1. Mendekatkan diri kepada Allah SWT: Syukur adalah bentuk ibadah yang membuat hamba semakin dekat kepada Penciptanya.
2. Mendatangkan ketenangan Jiwa: Bersyukur membantu fokus pada hal-hal positif dalam hidup, mengurangi stres dan kecemasan serta menjaga keseimbangan emosional.
3. Menumbuhkan rasa positif: Bersyukur mengarahakan kehidupan pada sikap optimis, husnudhan dan ikhlas, yang berujung pada kebahagiaan.
4. Memperkuat hubungan sosial: berterimakasih dan bersyukur atas nikmat yang diterima dari orang lain akan melahirkan sikap saling menghargai, menciptakan ikatan harmoni.
5. Jalan menuju surga: Sikap syukur dan sabar orang mukmin dalam menghadapi kehidupan ini, Allah SWT menjanjikan balasan surga.
6. Jauh dari penyakit hati: Sikap syukur orang mukmin akan menghindarkan dari penyakit hati seperti iri, dengki, dendam dan sejenisnya. Orang bersyukur hanya mengharap ridho Allah.
7. Meraih nikmat berlipat ganda: Sikap syukur orang mukmin atas nikmat Allah akan mendatangkan karunia nikmat berlipat ganda.
Hikmah dari aspek kesehatan, berdasarkan hasil riset terkait sikap dan perilaku syukur terbukti berpengaruh pada kesehatan mental sebagaimana penjelasan berikut. Riset Dr. Robert Emmons, seorang psikolog di University of California, telah melakukan banyak penelitian tentang perilaku syukur. Dalam salah satu studi, ia menemukan bahwa orang yang secara aktif bersyukur cenderung lebih bahagia, lebih optimis, dan memiliki kesehatan yang lebih baik dibandingkan mereka yang tidak bersyukur. Penelitian ini menegaskan bahwa sikap dan perilaku syukur dapat meningkatkan kualitas hidup seseorang.
Kalam akhir
Syukur merupakan separuh dari iman dan akhlak mulia, yang menjadi kunci untuk meraih kehidupan yang lebih bermakna, tenang, dan penuh berkah. Dengan memahami hikmah dan melaksanakan sikap syukur dalam kehidupan sehari-hari, kita dapat memperkuat iman dan takwa serta membentuk kepribadian kita sebagai seorang mukmin. Mari kita melatih diri untuk selalu bersyukur secara istiqomah, baik melalui lisan, sikap hati, maupun perilaku, sehingga kita dapat menghayati setiap detik yang Allah berikan dengan penuh rasa syukur. Kalimat Subhanallah, Alhamdulillah, La ilaha illallah, Allahu Akbar seharusnya selalu mengalun dalam lisan, terpatri di hati, dan tercermin dalam perilaku kita sepanjang hayat. Semoga Allah Azza wa Jalla senantiasa menjadikan kita hamba yang bersyukur dalam ridha-Nya. Aamiin.
Wallahu a’lam bis-shawab.
(Ngaliyan_ Semarang, 15 Ramadhan 1446 H/ 15 Maret 2025_ ISM)
0Komentar