berita
Kyai Nawawi Wasiatkan Lima Hal Agar Diri Bersih Pasca Idul Fitri

Kyai Nawawi Wasiatkan Lima Hal Agar Diri Bersih Pasca Idul Fitri

IDUL FITRI-bukan bagi yang bujunya baru, cat rumahnya baru atau mobilnya baru, melainkan Idul Fitri itu adalah milik siap saja yang takwanya kepada Allah mengalami peningkatkan pasca Ramadan. Itulah prolog K. H. Nawawi Attamjani, S.Ag., M.Ag., saat kegiatan halalbihalal virtual MUI Kota Semarang, Jumat (28/5/21), yang dihadiri oleh Dewan Pembina, Dewan Pimpinan Harian, Koordinator Komisi dan Anggota, serta pengurus MUI ditingkat kecamatan se-Kota Semarang.

Dalam ceramahnya, Kyai Nawawi menjelaskan, bahwa ramadan baru saja selesai memiliki predikat sayyidus suhur (Induk atau kepalanya segala bulan). Alhasil karena induk jadi istimewa, Allah pun menjadikan berpuasa sebulan penuh itu di bulan Ramadan dan tidak di bulan lainnya.

“Karenanya, saking istimewanya Ranadan, Rasul pun menyampaikan awalnya sebagai rahmat. Sehingga tidak aneh bila masjid, musala penuh aktifitas ibadah dan kegiatan, sampai-sampai yang tidak pernah ke masjidpun datang mencari keberkahan. Adapun dipertengannya, terdapat pengampunan, dan diakhirnya kita akan terbebas dari api neraka,” ungkapnya.

Kyai Nawawi juga menambah, Ramadan yang istimewa juga telah diturunkan Al-Qur’an sebagai kitab samawi. Hanya saja, masih terdapat sedikit pertanyaan umat, bagaimana sikap kita terhadap ayat Al-Qur’an yang mulia ini?

“Terhadap hal tersebut, Prof Hamka dalam tafsirnya memaparkan, bahwa bicara keseimbangan hidup manusia, agama apapun mengajarkan kata rahmat, kasih sayang kepada sesame, khususnya Islam yang rahmatan lil ‘alamin,” paparnya.

Mubaligh asal Pedurungan yang juga anggota Komisi Dakwah dan Pengembangan Masyarakat MUI Kota Semarang itu, mengutip firman Allah surat Al-A’ala:14, “Qad aflaha man tazakka”, (Beruntunglah bagi siapa saja yang suka membersihkan diri). Maksud para mufasir dari ayat tersebut adalah:

Pertama, hati dan diri ini jadi bersih, manakala baik pula sikap kita kepada orang tua. Karenanya, akan menjadi hina bila anak berani kepada orang tuanya. Apalagi, telah banyak contoh sebagaimana kisahnya Alqomah, Juraij, sehingga sebagus apapun ibadah anak, namun bila sikapnya kepada orang tua tidak pantas, tidak aka nada nilainya ibadah tersebut hadapan Allah Swt.

“Karenanya, bapak Kyai, ibu Nyai, mari berbuat baik kepada kedua orang tua kita,” jelasnya.

Kedua, jadilah suami salih dan istri yang salihah. Maknanya, “Suami” dalam terminologi Kyai Nawawi diartikan selalu berusaha untuk membahagian istri dengan memberikan rizki yang halal lagi baik. Adapun “istri” yang merupakan istana sebagai tempat ridha ilahi, harus bisa ikut menyejukkan keluarga melalui penguatan implementasi nilai Agama guna menggapai keridlaan-Nya.

Ketiga, orang yang mencintai diri dan lingkungannya. Artinya jangan sampai kita merusak diri kita sendiri dengan prilaku merusak, baik fisik maupun psikis. Tetapi, senantiasa menjaga iman, dengan istikamah mengerjakan salat, zikir, membaca Al-Quran, sedekah dan lainnya; kemudian imun, dengan cara mengkonsumsi makanan yang sehat, bergizi, halal dan tidak lupa ikut vaksinasi; serta aman, untuk senantiasa menjaga jarak di tengah wabah Pandemi Covid-19 yang belum berakhir.

Keempat, mari jaga kerukunan antar sesama maupuan agama. Terlebih, Indonesia ini memiliki bingkai penuh dengan keragaman, memiliki dasar negara Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika dan NKRI sebagai harga mati, sudah selayaknya kerukunan sebagai nilai yang nyata dan membumi. Di sinilah MUI memiliki peran vital, ikut menjadi payung (peneduh), demi terwujudnya kerukunan masyarakat secara kolektif. Dan kelima, senantiasa jaga tugas utama sebagai muslim untuk beribadah.

“Karenanya, jika kita menginginkan sukses dan sejahtera, di dunia, ikhtiarnya adalah bekerja. Hanya saja, sesibuk apapun dalam pekerjaan yang kita lakoni, jangan lupa iling kepada Allah Swt dengan sesantiasa beribadah dan mohon pertolongan Allah Swt,” pungkasnya.

Adapun Ketua MUI Kota Semarang, Prof. Dr. K. H. Moh. Erfan Soebahar, M. Ag. dalam sambutannya akan memberikan giliran kepada Komisi-Komisi di MUI ruang tampil baik internal maupun eksternal dalam.

“Pada waktunya, kami akan tunjuk Bapak dan Ibu semua, memberikan sesuatu yang baik kepada internal. Terlebih, berdakwah itu tidak seharusnya di luar MUI atau lingkungannya saja. Bagus juga, berdakwah itu di lingkungan kita sendiri. Karenanya, mari biasakan diri ngaji, jadi pintar dalam hidup ini, untuk senantiasa menyambut, suka mendengar, menyimak, apa-apa yang datang dari kawan-kawan kita di MUI ini untuk memberikan sesuatu yang baik,” tegasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *